Mengenal Sejarah Kain Tapis Lampung dan Fungsinya
Mengenal Kain Tapis Lampung
kain tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk sarung. Kain ini terbuat dari tenun benang kapas yang bermotif, atau hiasan sugi, benang perak atau benang emas yang dibuat dengan sistem sulam.
Adapun motifnya yang dikenal adalah motif alam, seperti flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan perak. Mengutip situs Kemdikbud, kadangkala kain tapis diberi hiasan aplikasi dengan bahan lain seperti kaca, moci (payet), uang logam dan sebagainya.
Pembuatan kain tapis menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana. Semula, pembuatan kerajinan ini dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga atau gadis-gadis sebagai pengisi waktu. Tujuannya adalah untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral.
Fungsi Kain Tapis
Ada banyak fungsi dari kain tapis. Umumnya, fungsi praktis kain tapis digunakan untuk beberapa hal berikut ini:
1. Dikenakan kaum wanita saat acara-acara adat
2. Dikenakan oleh penari
3. Sebagai mas kawin pada upacara perkawinan
4. Sebagai hadiah pada upacara perkawinan maupun khitanan
5. Penutup atau pembungkus makanan
6. Alas kepala dan alas tempat duduk dalam berbagai upacara adat
7. Sapu tangan pengantin wanita dan penutup punggung mempelai
Sejarah Kain Tapis Lampung
Jejak sejarah tapis Lampung berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Lampung. Dlihat dari motif-motif yang ada, sejarah tapis sudah ada sejak zaman Hindu sekitar abad ke 12-13 M, bahkan diyakini sejak zaman Prasejarah.
Pada awal perkembangannya, bahan yang digunakan untuk kain kapas adalah benang kapas. Di masa itu, masyarakat Lampung sudah mengenal cara menenun kain. Kemudian mereka mengenal pencelupan warna dari tumbuhan yang ada di sekitar.
Pengaruh Hindu-Buddha ada di dalam kain tapis. Sama dengan Islam yang masuk sesudah abad ke 15 M dan memperkaya unsur-unsur ragam hias tapis Lampung. Unsur-unsur sebelumnya tidak dihilangkan, seperti motif segitiga dari periode prasejarah tetap ada pada ragam hias Hindu yang melambagkan Dewi Sri dan Dewi Kemakmuran. Kemudian ada motif pucuk rebung yang melambangkan segi kekuatan yang tumbuh di dalamnya.
Bentuk spiral dan meander melambangkan pemujaan matahari dan alam. Sementara, ragam hias tumbuhan pada pohon hayar merupakan kepercayaan universal yang melambangkan keesaan Tuhan pencipta alam semesta.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar