Sejarah Tapis Lampung
Provinsi Lampung memiliki kain tenun tradisional yang berbeda, unik, dan legendaris. Kain tenun ini dikenal dengan kain tapis, dibuat dengan cara tradisional dan keterampilan yang mumpuni, sehingga bernilai jual tinggi. Kain ini dibuat melalui proses penenunan benang katun dan penyulaman tradisional dari benang emas dan benang perak. Masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan ‘cucuk’. Kain ini biasanya dikenakan oleh para wanita di bagian pinggang hingga mata kaki.
Sejarah Kain Tapis
Dalam catatan sejarah, masyarakat Suku Lampung mulai menenun kain brokat atau nampan (tampan) dan kain pelepai sejak abad ke II masehi. Motif yang tergambar dalam kain tersebut antara lain pohon hayat, kait, kunci, dan bangunan berisikan roh manusia, binatang, bunga melati, matahari, bintang, dan bulan.
Melewati proses yang panjang, kain tapis kemudian lahir dan dikembangkan hingga saat ini. Kain tapis pun mengalami perkembangan sesuai dengan kemajuan zaman, baik proses pembuatannya, motifnya, dan metode penempelan motif pada kain dasar tapis.
Suku Lampung yang memproduksi dan melestarikan kain tapis khas ialah suku yang beradat papadun. Kain tapis terdiri dari berbagai jenis tingkatan dan pemakaian yang berbeda-beda menurut siapa yang akan memakainya.
Bahan dan Alat Tenun Tapis Lampung
Kain tapis Lampung merupakan kerajinan tenun masyarakat Lampung yang dibuat dengan benang katun dan benang emas. Benang katun berasal dari tanaman kapas dan digunakan dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas digunakan dalam membuat ragam motif pada tapis dengan sistem sulam. Tahun 1950, para pengrajin tapis menggunakan bahan-bahan dari hasil olahannya sendiri, khususnya bahan tenun.
Bahan-bahan dasar kain tenun tapis Lampung adalah tanaman kapas untuk membuat benang, kepompong ulat sutera sebagai sumber pembuatan benang sutera, lilin sarang lebah untuk meregangkan benang, tanaman akar serai wangi untuk pengawet benang, dan penggunaan daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur.
Pewarna kain tapis terbuat dari pewarna alami yang berasal dari tanaman yang terdiri dari buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal (warna merah), kulit kayu salam dan kulit kayu rambutan (warna hitam), kulit kayu mahoni atau kulit kayu durian (warna coklat), buah deduku atau daun talom (warna biru), dan kunyit serta kapur sirih (warna kuning).
Adapun alat yang digunakan dalam pembuatan tenun tapis yaitu sesang, alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. Mattakh merupakan alat untuk menenun kain tapis. Mattakh memiliki beberapa bagian yaitu terikan, cacap, belida, kusuran, apik, guyun, ijan atau penekan, sekeli, terupong atau teropong, amben, dan tekang.
Proses Pembuatan Kain Tapis
Tahapan pembuatan kain tapis Lampung terdiri dari 4 metode, yaitu pembuatan benang, pewarnaan benang, perajutan benang, dan penyulaman benang untuk membuat motif pada kain tapis. Pembuatan kain tapis diawali dengan pemintalan kapas menjadi benang katun dan pemintalan kepompong ulat sutera menjadi benang emas. Selanjutnya, benang-benang tersebut melalui proses pengawetan dengan merendam dalam air yang sudah ditambahkan daun sirih wangi.
Tahapan berikutnya adalah pewarnaan benang dengan menggunakan bahan-bahan alami. Setelah warna benang dipilih dengan sesuai keinginan, benang direndam kembali dalam air yang dicampur daun sirih. Perendaman bertujuan agar warna benang tidak mudah luntur.
Selanjutnya, membuat benang menjadi kain dengan cara dirajut. Setelah kain jadi, tahapan yang paling penting adalah permbuatan motif yang diadaptasi dari alam sekitar, yakni flora dan fauna menggunakan benang-benang berwarna. Penyulaman motif disulam menggunakan sistem cucuk dengan benang emas dan perak. Apabila penyulaman benang sudah selesai dikerjakan, maka kain tapis sudah selesai dibuat dan siap dikenakan.
Perkembangan teknologi menjadikan kain tapis kini dapat disulam dengan mesin bordir, tidak lagi secara tradisional menggunakan tangan. Kendati demikian, penyulaman tapis dengan teknik-teknik tradisional masih tetap dipertahankan. Pembuatan kain tapis membutuhkan waktu berminggu, bahkan hingga berbulan-bulan. Tak heran, harga kain tapis dapat mencapai puluhan juta rupiah. Harga bervariasi tergantung kerumitan motif yang dibuat. Bentuk kerajinan tapis yang dipasarkan antara lain sarung, hiasan dinding, taplak meja, tas, dan sebagainya.

Komentar
Posting Komentar